WELCOME.. .. ..

KEMARIN ADALAH TRAGEDI, HARI INI ADALAH REALITY DAN BESOK ADALAH MISTERI


Jumat, 28 September 2012

HIPOVOLEMIA DAN HIPERVOLEMIA


HIPOVOLEMIA
Hipovolemia adalah penipisan volume cairan ekstraseluler (CES). Hipovolemia ini terjadi dapat disebabkan karena  penurunan masukan, kehilangan cairan yang abnormal melalui kulit, gastro intestinal, ginjal abnormal, dan perdarahan. Tergantung pada jenis kehilangan cairan hipovolemia dapat disertai dengan ketidak seimbangan asam basa, osmolar atau elektrolit. Penipisan (CES) berat dapat menimbulkan syok hipovolemik.
Mekanisme kompensasi tubuh pada kondisi hipolemia adalah dapat berupa peningkatan rangsang sistem syaraf simpatis (peningkatan frekwensi jantung, inotropik [kontraksi jantung] dan tahanan vaskuler), rasa haus, pelepasan hormon antideuritik [ADH], dan pelepasan aldosteron. Kondisi hipovolemia yang lama dapat menimbulkan gagal ginjal akut.

Pengkajian
1.  Tanda dan gejala : pusing, kelemahan, keletihan, sinkope, anoreksia, mual, muntah, haus, kekacauan mental, konstipasi, oliguria.
2.  Pengkajian Fisik : penurunan tekanan darah (TD), khususnya bila berdiri (hipotensi ortostatik); peningkatan frekwensi jantung (FJ); turgor kulit buruk; lidah kering dan kasar; mata cekung; vena leher kempes; peningkatan suhu dan penurunan berat badan akut. Bayi dan anak-anak : penurunan air mata, depresi fontanel anterior.
Pada pasien syok akan tampak pucat dan diaforetik dengan nadi cepat dan haus; hipotensi terlentang dan oliguria.
3.  Pengukuran hemodinamik : Penurunan CVP, penurunan tekanan arteri pulmoner (TAP), penurunan curah jantung (CJ), penurunan tekanan arteri rerata (TAR), peningkatan tekanan vascular sistemik (TVS).
4.  Riwayat dan faktor-faktor risiko :
§Kehilangan GI abnormal : muntah, penghisapan NG, diare, drainase intestinal
§Kehilangan kulit abnormal : diaforesis berlebihan sekunder terhadap demam atau latihan, luka bakar, fibrosis sistik
§ Kehilangan ginjal abnormal : terapi diuretik, diabetes insipidus, diuresis osmotik (bentuk poliurik), insufisiensi adrenal, diuresis osmotik (DM takterkontrol, pasca penggunaan zat kontras
§Spasium ketiga atau perpindahan cairan plasma ke interstisial : peritonitis, obtruksi usus, luka bakar, acites
§Hemoragi
§Perubahan masukan : koma, kekurangan cairan.

Pemeriksaan Diagnostik
1.  Nitrogen urea darah (BUN) : Mungkin meningkat karena dehidrasi, penurunan perfusi ginjal, atau panurunan fungsi ginjal.
2.  Hematokrit : Peningkatan pada dehidrasi ; penurunan dalam perdarahan.
3.  Elektrolit serum : Tergantung pada jenis kehilangan cairan. Hipokalemia terjadi pada kehilangan GI atau ginjal abnormal. Hiperkalemia terjadi pada insufisiensi ginjal. Hipernatermia dapat terlihat pada peningkatan kehilangan takkasatmata ataukehilangan keringat dan diabetes insidipus. Hiponatermia dapat terjadi pada kehilangan jenis hipovolemia karena peningkatan haus dan pelepasan ADH,, yang menimbulkan peningkatan masukan dan retensi air, dengan demikian mengencerkan natrium serum.
4.  CO2 total serum (juga diketahui sebagai kandungan CO2) : Menurun pada asidosis metabolic dan meningkat pada alkalosis metabolic.
5.  Gas darah arteri (nilai GDA) : asidosis metabolik (pH <7,35 dan HCO3 <22 mEq/L) dapat terjadi pada kehilangan GI bagian bawah, syok, atau ketoasidosis diabetik. Alkalosis metabolik (pH >7,45 dan HCO3 >26 mEq/L) dapat terjadi pada kehilangan GI atau terapi diuretik.
6.  Berat jenis urine : peningkatan karena upaya ginjal untuk menghemat air; dapat menetap kira-kira 1,010 pada penyakit ginjal; akan menurun pada diabetes insipidus.
7.  Natrium urine : menunjukan kemampuan ginjal untuk menyimpan natrium dalam respons terhadap peningkatan kadar aldosteron, pada takadanya penyakit ginjal, dieresis osmotik, atau terapi diuretik, ini harus <10-20 mEq/L
8.  Osmolalitas serum : Tergantung pada jenis kehilangan cairan dan kemampuan tubuh untuk mengkompensasi haus dan ADH.

Penatalaksanaan Kolaboratif
1.  Pemulihan volume cairan normal dan koreksi gangguan penyerta asam-basa dan elektrolit.Jenis penggantian cairan tergantung pada jenis kehilangan cairan dan beratnya kekurangan elektrolit serum, osmolalitas serum, status asam-basa
§  Dekstrosa dan air : memberikan hanya air bebas dan akan di distribusikan dengan merata keseluruh CIS dan CES; digunkan untuk hanya mengatasi kekurangan cairan tubuh total.
§  Normal salin isotonik : Hanya memperbanyak CES; tidak masuk CIS. Biasanya digunakan sebagai penambahan volume intrasesular atau untuk menggantikan kehilangan abnormal.
§  Darah dan komponen darah : Hanya memperbanyak bagian intravascular CES.
§  Larutan elektroli/salin campuran : Memberikan tambahan elektrolit (Mis., Kalium dan Kalsium) dan buffer (Laktat atau Asetat). Biasanya, larutan hipotonik digunakan sebagai cairan pengganti karena kebanyakan kehilangan cairan abnormal adalah isotonik.
Cairan harus diberikan dengan cukup cepat dan pada kuantitas yang cukup untuk mempertahankan perfusi jaringan adekuat tanpa kelebihan beban system kardiovaskular. Fungsi dasar kardiovaskular dan ginjal pasien menentukan seberapa baik ia mentoleransi penggantian cairan. Sehingga kecepatan pemberian cairan harus didasarkan pada beratnya kehilangan dan respon hemodinamik individu terhadap penggantian cairan. Selama penambahan cairan, volume cairan diberikan pada kecepatan khusus dan interval serta respon hemodinamik pasien dipantau dan didokumentasikan. Parameter hemodinamik dapat diresepkan oleh dokter atau, tergantung pada kebijakan pelayanan, ditentukan oleh protokol penambahan cairan. Penambahan cairan khusus termasuk langkah berikut :
  • Pengukuran tanda vital (TV) dasar, hemodinamik (mis., CVP,TAP,dan CJ) dan data klinis (mis., bunyi napas, warna kulit, dan suhu, dan sensorium).
  • Pemberian volume cairan awal sesuai program atau per protokol (mis., 100-200 ml SN lebih dari 10 menit).
  • Pesien dikaji kembali setelah 10 menit. 
  • Bila pasien tetap menunjukan tanda hipovolemia (mis., CVP dan TAP tetap rendah), tambahan cairan dapat juga diberikan per instruksi dokter atau protokol pelayanan. 
  • Bila CVP dan TAP meningkat terlalu cepat (mis., >2 mm Hg untuk CVP atau >3 m Hg untuk TAP), pemberian cairan dihentikan dan pasien dikaji ulang setelah 10 menit. Bila setelah 10 menit CVP atau TAP turun dan pasien tidak menujukkan tanda-tanda kelebihan bebna cairan, pemberian cairan dapat dilanjutkan. 
  • Pemberian cairan dilanjutkan sampai parameter hemodinamik yang diinginkan tercapai atau volume khusus telah di infuskan (mis., 500-1000 ml). Penambahan cairan harus dihentikan bila pasien menujukkan tanda kelebihan volume cairan (mis., krakles [rales], peningkatan FJ, peningkatan frekuensi pernapasan [FP] atau terdapat peningatan cepat pada CVP dan TAP.
2.  Perbaikan perfusi jaringan pada syok hipovolemik. Potensial terhadap perkembangan syok tergantung pada kehilanagn volume (biasanya lebih besar dari pada 25% dari volume intravascular) dan kecepatan kehilangan. Selanjutnya,keberhasilan tindakan tergantung pada penggantian volume cepat. Pada awlanya, syok hemoragi diatasi dengan larutan elektrolit isotonic, dan SDM kemasan diberikan sejalan dengan penurunan hematokrit.
3.  Rehidrasi orak pada diare pediatrik.
4.  Tindakan terhadpa penyebab dasar.

Diagnosa
1.  Defisit volume cairan  yang berhubungan dengan kehilangan cairan tubuh atau penurunan masukan.
Hasil yang diharapkan: pasien memenuhi mamsukan cairan dan elektrolit adekuat dibuktikan oleh haluran urine ≥30 ml/jam, berat badan stabil, berat jenis 1,010-1,030, tak ada tanda klinis hipovolemia (lidah kering, dll.), TD dalam batas normal pasien, CVP 2-6 mm Hg, dan FJ 60-100 dpm. Natrium serum 137-147 mEq/L dan hematokrit; BUN dalam batas normal pasien. Untuk pasien dalam perawatan kritis berikut ini dicapai :TAP 20-30/8-15 mm Hg dan CJ 4-7 L/mnt.
2.  Perubahan perfusi serebral, ginjal dan perifer yang berhubungan dengan hipovolemia.
Hasil yang diharapkan : pasien mempunyai perfusi yang adekuat dibuktikan dengan kesadaran, kulit hangat dan kering, TD dalam batas normal pasien,FJ <100 denyut permenit (DPM)keluaran urine ≥30 ml/jam selama 2 jam berturut-turut, pengisian kapiler <2 detik, dan nadi perifer >2+ pada skala 0-4+.

Pedoman Penyuluhan Pasien-Keluarga
Beri pasien dan orang terdekat intruksi verbal dan tertulis tentang hal berikut :
1.  Tanda dan gejala hipovolemia
2.  Pentingnya mempertahankan masukan yang adekuat, khususnya pada anak kecil dan lansia, yang lebih mungkin untuk terjadi dehidrasi.
3.  Obat-obatan : nama, tujuan, dosis, frekuensi, kewaspadaan, dan potensial efek samping.

HIPERVOLEMIA
Hipervolemia adalah penambahan / kelebihan volume (CES). Hipervolemia ini dapat terjadi jika terdapat :
1.  Stimulus kronis pada ginjal untuk menahan natrium dan air
2.  Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi natrium dan air
3.  Kelebihan pemberian cairan intra vena (IV)
4.  Perpindahan cairan interstisial ke plasma
Hipervolemia dapat menimbulkan gagal jantung dan edema pulmuner, khususnya pada pasien dengan disfungsi kardiovaskuler. Mekanisme kompensasi tubuh pada kondisi hiperlemia adalah berupa pelepasan peptida natriuretik atrium (PNA), menimbulkan peningkatan filtrasi dan ekskresi natrium dan air oleh ginjal dan penurunan pelepasan aldosteron dan ADH. Abnormalitas pada homeostatisis elektrolit, keseimbangan asam-basa dan osmolalitas sering menyertai hipervolemia.

Pengkajian
1.  Tanda dan gejala : sesak nafas, ortopnea.
2.  Pengkajian fisik : Oedema, peningkatan berat badan, peningkatan TD (penurunan TD saat jantung gagal) nadi kuat, asites, krekles (rales). Ronkhi, mengi, distensi vena leher, kulit lembab, takikardia, irama gallop.
3.  Pengukuran hemodinamik : peningkatan CVP, TAP, dan TAR.
4.  Riwayat dan faktor-faktor resiko
  • Retensi natrium dan air : gagal jantung, sirosis, sindrom nefrotik, kelebihan pemberian glukokortikosteroid
  • Fungsi ginjal abnormal : gagal ginjal akut atau kronis dengan oliguria 
  • Kelebihan pemberian cairan intravena (IV) 
  • Perpindahan cairan intertisial ke plasma : remobilisasi cairan setelah pengobatan luka bakar, kelebihan pemberian larutan hipertonik (mis; manitol, salin hipertonik) atau larutan onkotik kolid (mis; albumin)

Pemeriksaan Diagnostik
Temuan laboratorium yang ada dan biasanya takspesifik:
1.  Hematrokrit : penurunan karena hemodilusi
2.  BUN : meningkatkan pada gagal ginjal
3.  Nilai gas darah arteri (GDA) : Dapat menunjukkan hipoksemia (penurunan PaO2) dan alkalosis (peningkatan pH dan penurunan PaCO2) pada adanya edema pulmoner.
4.  Natrium dan osmolalitas serum : Akan menurun bila terjadi hipervolemia sebagai akibat dari kelebihan retensi air (mis., pada gagal ginjal kronis)
5.     Natrium urine : peningkatan bila ginjal berupaya untuk mengekskresikan kelebihan natrium. Natrium urine tidak akan meningkat pada kondisi hiperaldosteronisme sekunder (mis., gagal jantung  kongestif, sirosis, sindrom nefrotik) karena hipervolemia terjadi sekunder terhadap rangsang kronis pada pelepasan aldosteron.
6.     Berat jenis urine : Menurun bila ginjal berupaya untuk mengekskresikan kelebihan volume. Dapat menepat pada 1,010 pada gagal ginjal akut
7.     Foto rontgen dada : Dapat menunjukkan tanda kongesti vascular pulmoner

Penatalaksanaan Kolaboratif
Tujuan terapi adalah mengatasi masalah pencetus dan mengembalikan CES pada normal. Tindakan dapat meliputi hal berikut :
1.  Pembatasan natrium dan air
2.  Diuretik
3.  Dialisis atau hemofiltrasi arteriovena kontinu : Pada gagal ginjal atau kelebihan beban cairan yang mengancam hidup.

Diagnosa
Kelebihan volume cairan yang berhubungan dengan kelebihan masukan cairan dan natrium atau gangguan mekanisme pengaturan.
Hasil yang diharapkan : pasien normovolemik dibuktikan dengan haluran urine adekuat sedikitnya 30-60 ml/jam, berat jenis urine kira-kira  1,010-1,020, berat badan stabil, dan takada edema. TD dalam batas normal pasien, CVP 2-6 mm Hg, dan FJ 60-100 dpm. Selain itu, untuk pasien perawatan kritis TAP adalah 20-30/8-15 mm Hg, TAR 70-105 mm Hg, dan CJ 4-7 L/mnt.
Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan perubahan membrane alveolar-kapiler sekunder terhadap kongesti vascular pulmoner yang terjadi pada pertambahan CES.
Hasil yang diharapkan: pasien mempunyai pertukaran gas adekuat  dibuktikan oleh FP ≤napas/mnt, FJ ≤100 dpm, dan PaO2 ≥80 mm Hg. Pasien tidak menunjukkan krekles, gallop, atau indicator klinis lain dari edema pulmoner. Untuk pasien di perawatan kritis, TAP ≤30/15 m Hg.
Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas  kulit dan jaringan yang berhubungan dengan edema sekunder terhadap kelebihan volume cairan.
Hasil yang diharapkan : kulit pasien tetap bebas dari eritema, luka, dan ulserasi.

Pedoman Penyuluhan Pasien-Keluarga
Beri pasien dan orang terdekat instruksi verbal dan tertulis tentang hal berikut :
1.  Tanda dan gejala hipervolemia
2.  Gejala-gejala yang memerlukan pemberitahuan dokter setelah pulang dari rumah sakit; sesak nafas, nyeri dada, ketidakteraturan nadi baru.
3.  Diet rendah garam, bila diprogramkan; gunakan pengganti garam; dan hindari makanan yang mengandung natrium tinggi
4.  Obat-obatan : termasuk nama, tujuan, dosis, frekwensi, kewaspadaan dan potensial efek samping; tanda dan gejala hipokalemia bila pasien mnggunakan diuretik.
5.  Pentingnya pembatasan cairan bila hipervolemia berlanjut
6.  Pentingnya penimbangan berat badan setiap hari.

Pembentukan Edema
Edema terjadi sebagai akibat dari pertambahan volume cairan interstisial dan diartikan sebagai bengkak yang dapat teraba dari ruangan insterstisial yang terlokalisasi (mis., tromboflrbitis pada osbtruksi vena) atau umum (mis., gagal jantung). Edema umum berat adalah perubahan pada hemodinamik kapiler memperberat peningkatan pembentukkan atau penurunan pembuangan cairan interstisial. Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler akibat penambahan volume atau obstruksi vena, atau peningkatan permeabilitas kapiler karena luka bakar, alergi, atau infeksi, menyebabkan peningkatan volume cairan interstisial. Retensi natrium dan air oelh ginjal  meningkat dan mempertahankan edema umum. Ini mungkin karena penurunan kemampuan untuk mengekskresikan natrium dan air (aliran berlebihan) pada gagal ginjal atau peningkatan stimulus pada penghematan natrium dan air (kurang pengisian). Pada gagal ginjal jantung, sebagai contoh, kerusakan fungsi jantung menimbulkan penurunan CJ dengan penurunan SVE, yang pada waktunya merangsang ginjal untuk menyimpan natrium dan air melalui sistem reninagiotensin.

Pengkajian
Edema umum biasanya merupakan bukti paling nyata pada area tergantung. Pasien ambulasi akan menunjukkan edema pretibia atau pergelangan kaki, sedangkan pasien yang terbatas ditempat tidur akan menunjukan edema sacral. Edema umum juga dapat terjadi disekitar mata (periorbital) atau pada kantung scrotal karena tekanan jaringan rendah pada area ini.

Penatalaksanaan Kolaboratif
1.  Tindakan terhadap masalah utama : sebagai contoh, digitalis untuk pasien dengan gagal jantung kongestif.
2.  Mobilisasi edema : sebagai contoh, dengan tirah baring dan kaus kaki penyokong.
3.  Pembatasan diet natrium dan cairan : selain itu, sumber natrium tersembunyi (mis., obat-obatan) harus dihindari.
4.  Terapi diuretik.
5.  Dialisa atau hemofiltrasi arterivena kontinu : pada gagal ginjal atau kelebihan beban cairan yang mengancam jiwa.
6.  Parasentetis sbdomen : untuk tindakan asites berat yang secara  menguntungkan  mempengaruh fungsi kardiopulmoner.

Terapi Diuretik
Diuretik mengurangi edema dengan menghambat reabsorpsi dan natrium dan air oleh ginjal. Diuretic juga dapat menginduksi kehilangan elektrolit penting lainnya dan mengubah keseimbangan asam-basa. Meskipun rentesi natrium dan air oleh ginjal dan komponen penting pada pengembangan edema, tidak semua kondisi edema  memerlukan pengobatan dengan diuretic. Penurunan CES dan perubahan pada keseimbangan elektrolit disebabkan oleh diuretic mungkin mengganggu.
Komplikasi Terapi Diuretik
1.  Abnormalitas volume : kekurangan volume karena dieresis berlebihan. Pantauan pasien terhadap tanda kekurangan valume cairan: pusing, kelemahan, keletihan, hipotensi postural.
2.  Gangguan Elektrolit
a.   Hipokalemia : terjadi karena peningkatan sekresi dan ekskresi kalium oleh ginjal.
b.  Hiperkalemia : Terjadi karena penurunan sekresi dan ekskresi kalium oleh ginjal. Ini dapat terjadi dengan diuretik yang bekerja pada tubulus distal akhir.pantuan pasien terhadap indicator hiperkalemia : peka rangsang, ansietas, kram abdomen, kelemahan otot (khususnya pada ekstermitas bawah), dan perubahan EKG.
c.   Hiponatremia : Terjadi karena peningkatan rangsang untuk pelepasan ADH sekunder terhadap penurunan volume sirkulasi efektif (ingat bahwa ADH hanya mempengaruhi reabsorpsi dan retensi air). Pantau pasien terhadap indikato hiponatremia : perangsang, ketakutan, dan pusing.
d.  Hipomagnesemia : Terjadi karena penurunan reabsorpsi dan peningkatan ekresi magnesium oleh ginjal. Ini dapat terjadi pada ansa dan diuretic jenis tiazid dan akan memperberat terjadinya hipokalemia. Pantau pasien terhadap indicator hipomagnesia : kacau mental, kram, dan disritmia.
3.  Gangguan asam-basa
a.   Alkalosis metabolik: Dapat disebabkan oleh ansa dan diuretic jenis tiazid karena peningkatan sekresi dan ekskresi hydrogen oleh ginjal dan kontraksi CES di sekitar adanya bikarbonat (kontaksi alkalosis). Pantau pasien terhadap indikator alkalosis metabolic : kelemahan otot, disritmia, apatis, dan kacau mental.
b.  Asidosis metabolik : Dapat terjadi karena peningkatan kehilangan bikarbonat pada urine dengan asetazolamid. Pantau pasien terhadap indikator asidosis metabolic : takipnea, kelelahan, kacau mental. Asidosis metabolic juga terjadi pada diuretic pengikat kalium.
4.  Komplikasi metabolik lain :
a.   Azotemia : ini adalah peningkatan retensi sisa metabolic (mis., urea dan kreatinin) karena reduksi volume sirkulasi efektif dengan penurunan perfusi ginjal dan penurunan ekskresi sisa metabolik. Waspadakan dokter terhadap perubahan BUN.
b.  Hiperuresemia : Terjaid karena peningkatan reabsorpsi dan penurunan ekskresi asam urat oleh ginjal. Waspadakan dokter terhadap keluhan pasien tentang jenis nyeri gout. Kondisi ini biasanya hanya masalah pada pasien dengan adanya gout.

Terapi Cairan
Tujuan pemberian cairan IV adalah untuk mempertahankan atau memulihkan valume cairan normal dan keseimbangan elektrolit dan untuk memberikan cara pemberian obat-obatan dengan cepat dan efisien. Perhatian lainnya adalah nutrisi. Sayangnya, cairan IV rutin (mis., larutan dekstrosa 5%) mengandung hanya kabohidrat yang cukup untuk meminimalkan kerusakan jaringan dan kelaparan. Bahan ini tidak memberikan kalori dan asam amino esensial adekuat untuk kebutuhan sintesis jaringan. Lima persen larutan dekstrosa, sebagai contoh, memberikan hanya 170 kalori perliter, sedangkan rata-rata pasien tirah baring memerlukan minimal 1500 kalori per hari.pasien jangan harus dipertahankan cairannya semata-mata pada larutan dektrosa 5% untuk lebih dari beberapa hari.
Jenis cairan IV yang diresepkan untuk penggantian atau pemeliharaan volume tergantung pada beberapa faktor, temasuk jenis kehilangan cairan dan kebutuhan nutrisi pasien, elektrolit serum, osmolalitas serum, dan keseimbangan asam-basa.

Cairan Intravena yang Umum Diprogramkan
Cairan IV dibagi kedalam dua kategori mayor : kristaloid dan koloid. Larutan kristaloid hanya mengandung elektrolit dan glukosa, substansi yang tidak dibatasi pada ruang intravaskular. Karenanya, larutan ini akan menyebar keseluruh ruang ekstraseular. Tergantung pada kandungan natriumnya, kristaloid juga dapat menambah volume cairan intraselular (CIS). NaCl isotonic (0,9%) hanya akan menambah CES, sedangkan larutan NaCl hipotonik dan dekstrosa dan larutan air menambah kompartemen cairan. Koloid adalah larutan yang mengandung sel-sel, protein, atau makro molekul sintetik yang tidak siap melewati membrane kapiler. Larutan ini tetap didalam ruang vascular dan, tergantung pada konsentrasi mereka, dapat menyebabkan perpindahan osmotik cairan dari insterstitium kedalam ruang intravaskular.

Rehidrasi Oral pada Diare Pediatrik
Larutan rehidrasi oral telah dikembangkan untuk mengatasi kekurangan cairan karena diare, sumber umum dari kehilangan cairan abnormal pada bayi dan anak kecil. Larutan ini mengandung berbagai jumlah glukosa, natrium, dan kalium, dan beberapa bentuk buffer. Kensentrasi glukosa dari larutan rehidrasi oral sangat penting karena keterkaitan glukosa dengan reabsorpsi natrium dalam usus. Asbsorpsi air dan natrium maksimal diyakini terjadi pada konsentrasi glukosa  10-35 g/L. Secara umum cairan tersedia, seperti minuman cola, jahe, dan sari buah apel, sering diberikan untuk menggantikan kehilangan cairan pada  episode diare ringan. Namun ini adalah pilihan yang buruk untuk penggantian cairan pada diare berat atau lama karena konsentrasi glukosa tinggi dan elektrolit rendah.

Minggu, 23 September 2012

Update Wining Eleven 9 Musim 2012/2013

Buat temen-temen  yang suka main game PC (WE9), Herry ada update-an wining eleven 9 baru nih,,
Neh ada Update lagi File Winning Eleven 9 terbaru Jelang Musim 2012/2013, Salah satunya Robin Van Persie yang udah pindah ke Manchester United juga sudah ada.

Daftar Pemain Yang Update Transferan pindah klub 2012/2013 yang ada di update Winning Eleven 9 Agustus ini antara lain:
  • Hulk Porto - > Zenit
  • Owen MU-> Stoke city
  • Karagounis -> fulham
  • Cris Galatasaray -> Lyon
  • van der wiel ajax -> Psv
  • lassana diarra R Madrid -> Anzhi M
  • Ibra, Silva Milan -> Psg
  • Viviano Palermo -> Fiorentina
  • Borja Valero Villareal -> Fiorentina
  • Isla, Asamoah Udinese -> Juventus
  • Pogba MU -> Juventus
  • Milos Krasic Juventus -> Fenerbache
  • Shinji Kagawa Dortmund -> MU
  • Handanovic Udinese -> Inter
  • Silvestre Palermo -> Inter
  • Oscar Internacional -> Chelsea
  • Hazard Lille -> Chelsea 
  • Marin W Bremen -> Chelsea
  • Zapata Villareal -> Milan
  • Taye Taiwo Milan -> D Kyev
  • S Cazorla Valencia -> Arsenal
  • Lukas Podolski Koln -> Arsenal
  • Robin Van Persie Arsenal -> MU
  • Bosingwa chelsea -> QPR
  • Saha Totenham -> Sunderland
  • Jack Rodwell Everton -> M City
  • Ryo Myaichi Arsenal -> Wigan
  • Joe Allen Swansea -> Liverpool
  • Azpilicueta Marseille -> Chelsea
  • A Pereira Porto -> Inter
  • Walter Argano Napoli -> Inter
  • A Cassano Milan -> Inter
  • Samuele Longo Inter -> Espanyol
  • G Pazzini Inter -> Ac Milan
  • Bojan Krkic As Roma -> Milan
  • Luka Modric Totenham -> Madrid
  • Nuri Sahin Madrid -> Liverpool
  • V Moses Everton -> Chelsea
  • Aquilani Liverpool -> Fiorentina
  • Adam Johnson Manc City -> Sunderland
  • Maicon Inter -> Manc City
  • Charlie Adam Liverpool -> Stoke City
  • Dany rose Totenham -> Sunderland
  • Nigel de Jong Manc City -> Milan
  • Julio Cesar Inter -> Qpr
  • Van der Vaart Totenham -> Hamburg
  • Nastasic Fiorentina -> Manc City
  • Savic Manc City -> Fiorentina
  • Hugo Lioris Lyon -> Totenham
  • Ze Eduardo Genoa -> Siena
  • Gaston Ramirez Bologna -> Southampton
  • Valter Birsa Genoa -> Torino
  • Saviola Benfica -> Malaga
  • Mesto Genoa -> Napoli
  • Roque Santa Cruz Manc City -> Malaga
  • Ibrahim Afellay Barcelona -> Schalke 04
  • Joey Barton Qpr -> Marseille
  • Ryan Babel Hoffenheim -> Ajax
  • Javi Martinez Athletic Bilbao -> Bayern Muenchen
  • Essien Chelsea -> Madrid
  • Dejagah Wolfsburg -> Fulham
dan masih banyak lagi transfer pemain yang terupdate.

ini linknya :

link yang lain :


link diatas semuanya Update-an baru musim 2012/2013.
mohon maaf jika ada yang masih belum lengkap sobat.
jika bingung bagaimana cara mengupdatenya !
sobat bisa baca cara di bawah ini !!!

Cara Update Pemain di winning eleven 9:
  1. Download File updatenya di link yang ada diatas 
  2. Lalu apabila masih dalam format rar / zip , filenya di ekstrak dulu. Filenya berupa KONAMI-WIN32PES5OPT
  3. Masukan KONAMI-WIN32PES5OPT kedalam folder My Documents/KONAMI/Winning Eleven 9/save/folder1
Semoga bermanfaat untuk sobat pecinta Game Bola Winning Eleven 9.
Bila yang ingin Updatenya langsung dikirim ke FB, silahkan post atau tulis pesan di Rhie Bocah Bigbabol atau meniton ke @HeRhie.

 mohon komentar dan pendapat sobat semuanya ya jika ada yang kurang dalam penulisannya.. .. .. !!!
Terimakasih telah berkunjung ke blog sederhana Herry ya sobat.. .. .. ^_^

Sabtu, 22 September 2012

Jadwal Pertandingan Chelsea F.C.

jadwal lengkap untuk Chelsea di Liga Premier 2012-2013:

18 Agustus 2012: Wigan v Chelsea
25 Agustus 2012: Chelsea v Newcastle
1 September 2012: Chelsea v Reading
15 September 2012: QPR v Chelsea
22 September 2012: Chelsea v Stoke
29 September 2012: Arsenal v Chelsea
6 Oktober 2012: Chelsea v Norwich
20 Oktober 2012: Tottenham v Chelsea
27 Oktober 2012: Chelsea v Man Utd
3 November 2012: Swansea v Chelsea
10 November 2012: Chelsea v Liverpool
17 November 2012: West Brom v Chelsea
24 November 2012: Chelsea v Man City
28 November 2012: Chelsea v Fulham
1 Desember 2012: West Ham v Chelsea
8 Desember 2012: Sunderland v Chelsea
15 Desember 2012: Chelsea v Southampton
22 Desember 2012: Chelsea v Aston Villa
26 Desember 2012: Norwich v Chelsea
29 Desember 2012: Everton v Chelsea
1 Januari 2013: Chelsea v QPR
12 Januari 2013: Stoke v Chelsea
19 Januari 2013: Chelsea v Arsenal
29 Januari 2013: Reading v Chelsea
2 Februari 2013: Newcastle v Chelsea
9 Februari 2013: Chelsea v Wigan
23 Februari 2013: Man City v Chelsea
2 Maret 2013: Chelsea v West Brom
9 Maret 2013: Fulham v Chelsea
16 Maret 2013: Chelsea v West Ham
30 Maret 2013: Southampton v Chelsea
6 April 2013: Chelsea v Sunderland
13 April 2013: Chelsea v Tottenham
20 April 2013: Liverpool v Chelsea
27 April 2013: Chelsea v Swansea
4 Mei 2013: Man Utd v Chelsea
12 Mei 2013: Aston Villa v Chelsea
19 Mei 2013: Chelsea v Everton (espn/row)

Jumat, 14 September 2012

DIMENSI SOSIAL WANITA DAN PERMASALAHANNYA

A. status sosial wanita
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, 2001 status adalah keadaan atau kedudukan orang/badan dan sebagainya dalam hubungannya dengan masyarakat. Status social wanita berarti kedudukan wanita dalam masyarakat.
Menurut Soekanto Soerjono, 1990 status sosial atau kedudukan sosial adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang lain dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya dan hak-hak serta kewajiban-kewajibannya.
Status wanita mencakup dua aspek yaitu :
1.    Aspek otonomi wanita.
Aspek ini mendeskripsikan sejauh mana wanita dapat mengontrol ekonomi atas dirinya disbanding dengan pria.
2.    Aspek kekuasaan sosial
Aspek ini menggambarkan seberapa berpengaruhnya wanita terhadapa orang lain diluar rumah tangganya.

Status wanita meliputi:

1.    Status reproduksi, yaitu wanita sebagai pelestarian keturunan. Hal ini mengisyaratkan bila seorang wanita tidak mampu melahirkan, maka status sosialnya dianggap rendah disbanding wanita yang bis mempunyai anak.
2.    Status produksi, yaitu sebagai pencari nafkah dan bekerja diluar rumah. Santrock (2002) mengatakan bahwa wanita yang bekerja akan meningkatkan harga diri. Wanita yang bekerja mempunyai status yang lebih tinggi disbanding dengan wanita yang tidak ikut kerja.

B.Nilai wanita
            Menurut kamus besar bahasa Indonesia 2001, nilai berarti harga, mutu, kadar, sifat-sifat yang penting yang berguna bagi kemanusiaan.
            Sejak zaman dulu perempuan sering diberlakukan nista diseluruh penjuru dunia dalam sejarah. Perempuan dianggap sebagai setengah manusia, mahluk pelengkap, konco wingking dan sejenisnya dimana hak dan kewajiban, terlebih lagi peradabannya diatur dan ditentukan oleh laki-laki. Pada peradaban Nasrani Kuno abad ke-5 M, merelka menyatakan bahwa perempuan tidak memiliki ruh suci. Pada abad ke-6 masehi perempuan tercipta hanya untuk melayani laki-laki semata-mata.
            Di zaman peradaban Zunani Kuna pada kalangan kerajaan, mereka menempatkan perempuan sebagai mahluk yang terkurung dalam istana. Kalangan dibawahnya menjadikan perempuan bebas diperdagangkan. Saat perempuan sudah menikah, suami berhak melakukan apa saja terhadap istrinya. Pada peradaban Romawi perempuan kedudukannya dibawah kekuasaan sang ayah, dimana setelah menikah berpihak kepada suami. Kekuasaan yang dimiliki sangat mutlak, sehingga berhak menjual, mengusir, menganiaya bahkan sampai membunuh.
            Pada abad ke-7 masehi, perempuan sering menjadi barang sesajen bagi para dewa oleh masyarakat Hindu Kuno. Hak hidup bagi perempuan yang bersuami tergantung hidup mati suaminya. Jika suaminya meninggal, maka istri harus dibakar hidup-hidup bersama mayat suaminya dibakar.
            Gambaran ilustrasi peradaban diatas menyiratkan bagi kita, nilai perempuan yang sangat rendah dibanding laki-laki. Pada zaman sekarang nilai wanita juga masih dianggap rendah, tidak setinggi nilai laki-laki dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Dalam keluarga anak lebih takut atau lebih patuh pada ayah disbanding pada ibu. Dikehidupan masyarakat, laki-laki lebih diutamakan daripada perempuan.

C. Peran Wanita

            Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 2001peran berarti tingkah laku yang diharapkan yang dimiliki wanita sehubungan dengan kedudukan dimasyarakat.
            Menurut Soekanto Soerjono, 1990 peranan (role) merupakan dinamis kehidupan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu peranan.
            Menurut Kartono Kartini, 1992 peran wanita sebagai berikut:
1. peran wanita berkaitan dengan kedudukannya dalam keluarga
      a.    Ibu rumah tangga penerus generasi. Perempuan berperan aktif dalam peningkatan kualitas generasi penerus sejak dalam kandungan.
      b.    Istri dan teman hidup patner sex. Sikap istri mendampingi suami merupakan relasi dalam hubungan yang setara sehingga dapat tercapai kasih saying dan kelanggengan perkawinan.
      c.    Pendidik anak. Anak memperoleh pendidikan sejak dalam kandungan. Memberikan contoh berperilaku yang baik karena anak belajar berperilaku dari keluarga. Ibu dapat memberikan pendidikan akhlak, budi pekerti, pendidikan masalah reproduksi.
      d.    Pengatur  rumah tangga. Perempuan menjaga, memelihara, mengatur rumah tangga, menciptakan ketenangan keluarga. Istri mengatur ekonomi keluarga, pemelihara kesehatan keluarga, menyiapkan makanan bergizi tiap hari, menumbuhkan rasa memiliki dan bertangggung jawab terhadap sanitasi rumah tangga juga menciptakan pola hidup sehat jasmani, rohani dan sosial.

2. Peran wanita berkaitan dengan kedudukannya dalam masyarakat sebagai mahluk sosial yang berpartisipasi aktif.
            Wanita berpatisipasi aktiv dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Wanita berperan aktiv dalam pembangunan dalam berbagai bidang seperti dalam pendidikan, kesehatan, politik, ekonomi, sosial, budaya untuk memajukan bangsa dan Negara.

            Permasalahan kesehatan wanita dalam dimensi social dan upaya mengatasinya :

1.    Kekerasan
Pengertian kekerasan
Pasal 89 KUHP :
            Melakukan kekerasan adalah pempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani tidak kecil secara yang tidak sah misalnya memukul dengan tangan atau dengan segala macam senjata, menepak, menendang dsb.
Bentuk- Bentuk Kekerasan
a.    Kekerasan psikis.
Misalnya: mencemooh, mencerca, men&na, memaki, mengancam, melarang berhubungan dengan keluarga atau kawan dekat / raasyarakat, intimidasi, isolasi, melarang istri bekerja.
b.    Kekerasan fisik.
Misalnya memukul, membakar, menendang, melempar sesuatu, menarik rambut, mencekik, dll.
c.    Kekerasan ekonomi.
Misalnya: Tidak memberi nafkah, memaksa pasangan untuk prostitusi, memaksa anak untuk mengemis,mengetatkan istri dalam keuangan rumah tangga, dan lain-lain.
d.    Kekerasan seksual.
Misalnya: perkosaan, pencabulan, pemaksaan kehendak atau melakukan penyerangan seksual, berhubungan seksual dengan istri tetapi istri tidak menginginkannya.
            Banyak kasus terjadi kekerasan psikis berupa makian, hinaan (ungkapan verbal ) Bering berkembang menjadi kekerasan fisik. Pada awalnya mungkin belum terjadi, tetapi ketidaksengajaan pria kemudian berlanjut pada tindakan kekerasan fisilk secara nyata.

Penyebab ter adinya kekerasan adalah
a.    Perselisihan tentaing ekonomi.
b.    emburu pada pasangan.
c.    Pasangan mempunyai selingkuhan.
d.    Adanya problema seksual (misalnya: impotensi, frigid, hiperceks).
e.     Pengaruh kebiasaan minum alkohol, drugs abused.
f.     Permasalahan dengan anak.
g.    Kehilangan pekerjaan/PHK/menganggur/belum mempunyai pekerjaan.
h.    Istri ingin melanj utkan studi/ingin bekerja.
i.      Kehamilan tidak diinginkan atau infertilitas.
Alasan Tindak Kekerasan Oleh Pria
a.    Tindakan kekerasan dapat mencapai suatu tujuan.
1.    Bila terjadi adi konflik, tanpa harus musyawarah kekerasan merupakan cara cepat penyelesaian masalah.
2.    Deegan melakukan perbuatan kekerasan, prig merasa hidup lebih berarti karena dengan berkelahi ma ka pria merasa menjadi lebih digdaya.
3.    Pada saat melakukan kekerasan pria merasa memperoleh `kemenangan' dan mendapatkan apa yang dia harapkan, maka korban akan menghindari pada konflik berikutnya karena untuk menghindari rasa sakit.
b.    Pria merasa berkuasa atas wanita. Bila pria merasa mempunyai istri ‘kuat' maka dia berusaha untuk melemahkan wanita agar merasa tergantung padanya atau membutuhkannya.
c.    Ketidaktahuari priaa. Bila latar belakang pria dari keluarga yang selalu mengandalakan kekerasan sebagai satu-satunyajclan menyelesaikan masalah dan tidak mengerti cara lain maka kekerasan merupakan jalan pertama dan ut-aina baginya sebagai cara yang jitu setiap ada kesulitan atau tertekan karena memang dia tidak pernah belajar cara lain untuk bersikap.

Akilbat Tindakan Kekerasan
a.    Kurang bersemangat atau kurang percaya diri.
b.    Gangguan psikologi sampai timbul gagguan system dalam tubuh(psikosomatik), seperti: cemas, tertekan, st-I-ess, anoreksia (kurang nafsu makan), insomnia (susah tidur, Bering mimpibtwik,jantw-igterasa berdebar-debar, keringat dingin, rnual, gastritis, nyeri perut, posing, nyeri kepala.
c.    Cidera ringan sampai berat, seperti: lecet, memar, luka terkena benda tajam, patah tulang, luka bakar.
d.    Masalah seksual, ketakutan hubungan seksual, nyeri saat hubungan seksual, tidak ada hasrat seksual, frigid.
e.    Bila perempuan korban kekerasan sedang hamil dapat terjadi abortus/ keguguran.

2.     Perkosaan
 Pengertian perkosaan:
a.    Perkosaan adalah setiap tindakan laki-laki memasukkan penis, jari atau alat lain ke dalam vagina/alat tubuh seorang perempuan tanpa persetujuannya.
b.    Dikatakan suatu tindak perkosaan tidak hanya bila seorang, perempuan disiksa, dipukuli sampai pinsan, atau ketika perempuan meronta, melawan, berupaya melarikan setiap diri atau korban hendak bunuh diri, akan tetapi meskipun perempuan tidak melawan, apapun yang dilakukan perempuan, bila perbuatan tersebut bukan pilihan keinginan perempuan berarti termasuk tindak perkosaan. bukan kesalahan wanita.
c.    Dalani rumah tangga, hubungan seksual yang tidak diinginkan istril
termasuk tindakan kekerasan, merupakan tindakan yang salah.

Motivasi Perkosaan
a.    Pria ingin menunjukkan kekuasaan yang bertujuan untuk menguasai korban dengan cara mengancam (dengan senjata secara, fisik menyakiti perempuan, verbal dengan mengertak) dan dengan penetrasi sebagai simbol kemenangan.
b.    Sebagai cara meluapkan rasa march, penghinaan, balas dendam, menghancurkan lawan baik masalah individu maupun masalah kelompok tertentu, sedangkan unsur rasa cinta ataupun kepuasan
      seksual tidak penting.
c.    Luapan perilaku sadis, pelaku merasa p» as telah membuat penderitaan bagi orang lain.

Jenis-Jenis Perkosaan
a)    Perkosaan oleh orang yang dikenal.
1)    Perkosaan oleh suami/bekas suwami.
2)    Perkosaan oleh pacar/dating rape.
3)    Perkosaan oleh teman kerja/atasan.
4)    Pelecehan seksual pada anak. b. Perkosaan oleh orang yang t1dak dikenal.

Perempuan Rentan Terhadap Korban Pemerkosaan
a.    Kekurangan fisik dan mental, adanya suatu penyakit atau permasalahan yang berkaitan dengan fisik sehingga perempuan duduk diatas kursi roda, bisu, tuli, buta atau keterbelakangan mental. Mereka tidak mampu mengadakan perlawanan.
b.    Pengungsi, imigran, tidak mempunyai rumah, anak jalanan/gelandangan, di daerah peperangan.
c.    Korban tindak kekerasan suami/pacar.

Pencegahan Pemerkosaan :
a.    Berpakaian santun, berperilaku, bersolek tidak mengundang perhatian pria.
b.    Melakukan aktifitas secara bersamaan dalam kelompok dengan banyak teman, tidak berduaan.
c.    Di tempat keda bersama teman/berkelompok, tidak berduaan dengan sesama pegawai atau atasan.
d.    Tidak menerima tamu laki-laki ke rumah, bila di rumah seorang diri.
e.    Berjalan - jalan bersama banyak teman, terlebih di waktu malam hari.
f.     Bila merasa diikuti orang, ambil jalan kearah yang berlainan, atau berbalik dan bertanya ke orang tersebut dengan nada keras, dan tegas. apa maksud dia.
g.    Membawa alat yang bersuara keras seperti peluit, atau alat bela diri seperti parfum spray, bubuk cabe/merica yang bisa ditiupkan ke mata­
h.     Berteriak sekencang mungkin bila diserang.
i.      Jangan ragu mencegah dengan mengatakan 'tidak', walaupun pada atasan yang punya kekuasaan atau pada pacar yang sangat dicintai.
j.      Ketika bepergian, hindari sendirian, tidak menginap, bila orang tersebut merayu tegaskan bahwa perkataan dan sentuhannya membuat anda merasa risih, tidak nyaman, dan cepatlah meninggalkannva.
k.    Jangan abaikan kata hati. Ketika tidak nyaman dengan suatu tindakan yang mengarah seperti dipegang, diraba, dicium, diajak ke tempat sepi.
l.      Waspada terhadap berbagai cara pemerkosaan seperti: hipnotis. obat-obatan dalarn rninuman, pemen, snack atau hidangan makanan.
m.   Saat ditempat baru, jangan terlihat bingung. Bertanya pada polisi. hansip atau instapsi.
n.    Menjaga jarak/space interpersonal derigan. lawan jenis. Di eropa space interpersonal dengan jarak 1 meter.
Sikap terhadap korban perkosaan:
a.    Menumbuhkan kepercayaan diri bahwa hal ini terjadi bukan kesalahannya.
b.    Menumbuhkan gairah hidup.
c.    Mengliargai kemauannya untuk menjaga privasi dan keamanannya.
d.    mendampingi untuk periksa atau lapor pada polisi.


Resiko kesehatan pada korban perkosaan:
a.    Kehamilan. Dapat dicegah dengan minuet kontrasepsi darurat pada 24 jam pertama.
b.    Tejangkit Infeksi menular seksual.
c.    Cidera robek dan sayatan, cekikan, memar bahkan sampai ancaman jiwa.
d.    Hubungan seksual dengan suarni mengalami gangguan, memerlukan waktu terbebas dari trauma ataupun merasa diri telah temoda.
e.    Gejala psik-ologis ringan hingga gangguan psikologi berat. Pada waktu singkat perempuan korban perkosaan menyaiahkan diri send iri, sebab merasa dirinya yang menyebabkan perkosaan terjadi, terlebih pandangan budaya biasanya selalu menyalahkan perempuan. Selain itu juga terjadi insomma/gangguan tidur, ancreksia/tidak nafsu makan,kecemasan mendalam, perasaan males untuk bersosialisasi. Gejala psikologi tersebut dapat berkembang bila penanganan tidak adekuat seiring dengan makin bertambah, waktu yaitu perasaan tidak­ punya daya upaya, marah yang mernbara, merasa diri tidak berharga, timbul gejala psikosomatis seperti: mual, mutah, sakit kepala, badan sakit. Selain itu dapat timbul ketakutan yang luar biasa/fobia, mengurung diri. Gejala psikologi ini tiap perempuan berbeda tergantung dari tipe kepribadian terbuka atau tertut,dukungan dari keluarga dan lingkungan, persepsi diri dengan apa yang dialami, pengalaman dalam menghadapi stress, koping mekanisme/telcnik mengatasi masalah sebelumnya.
Tindakan pada saat serangan seksual:
a.    Hindari menangis atau minta belas kasihan.
b.    Hindari kepanikan, tetap waspada, bertindak saat pelaku lengah.
c.    Berjuang untuk pernbela diri seperti: menendang, teriak, menawar, melakukan strategi perlawanan.
d.     Amati ciri khusus pelaku.
e.    Manfaatkan evaluasi situasi yang terbaik.


Penanganan
Tugas tenaga kesehatan dalam kasus tindak perkosaan:
a.    Bersikap dengan baik, penuh perhatian dan empati.
b.    Memberikan asuhan untuk menangani gangguan kesehatannya, misalnya mengobati cidera, pemberian kontrasepsi darurat
c.    Mendokumentasikan basil pemeriksaan dan apa yang sebenarnya terjadi.
d.    Memberikan asuhan pemenuhan kebutuhan psikologis
e.    Memberikan konseling dalam membuat keputusan.
f.     Membantu memberitahukan pada keluarga.
Upaya promotif :
a.    Meningkatkan keterarnpilan bagi tenaga kesehatan pada pertolongan tindak perkosaan untuk mengatasi masalah kesehatan dan dalam memberi dukungan bila ingin melapor ke polisi.
b.    Penguasaan seni atau keterampilan bela diri bagi para wanita.
c.    Penyelenggaraan pendidikan seksual untuk remaja.
d.    Sosialisasi hukum yang terkait.
Pasal dalam undang-undang yang berkaitan dengan tindak perkosaan:
a.    Pasal 281-283 KUHP tentang Kejahatan terhadap Kesopanan.
b.    Pasal 289-298 KUHP tentang Pencabulan.
c.    asal 506 KUHP tentang Mucikari.
d.    Undang-undang Perlindungan Anak (UUPA) no 23 tahun 2003.
e.    Undang-undang no 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
Penjelasan selengkapnya tentang pasal pasal pada akhir bab ini.

3. Pelecehan seksual
Pelecehan seksual adalah segala bentuk perilaku maupun perkataan bermakna seksual yang berefek merendahkan martabat orang yang menjadi sasaran.

Bentuk-bentuk pelecehan seksual
a.    Mengucapkan kata-kata jorok tentang tubuh wanita.
b.    Main mata, siulan nakal, isyarat jorok, sentuhan, rabaan, remasan, usapan, elusan, colekan, pelukan, ciuman pada bagian tubuh wanita.
c.    Menggoda, kearah hubungan seksual.
d.    Laki-laki memperlihatkan alat kelaminnya atau onani di depan perempuan.
Akibat pelecehan seksual
a.    Gangguan psikologis: marah, mengumpat, tersinggung dipermalukan, terhina, trauma sehingga takut keluar rumah.
b.    Kehilangan gairah kerja /belajar, malas.
Pasal dalam undang-undang yang berkaitan dengan tindak pelecehan seksual:
a.    Pasal 281-283 KUHP tentang Kejahatan terhadap Kesopanan.
b.    Pasal 289-298 KUHP tentang Pencabulan.
c.    Pasal 506 KUHP tentang Mucikari.
d.    Undang-undang Perlindu-nganAnak (UUPA) no 23 tahun 2003.
e.    Undang-undang no 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam.Rumah Tangga(KDRT).'

4. Single parent
Single parent adalah keluarga yang mana, hanya ada satu orang tua tunggal, hanya ayah atau ibu saja. Keluarga yang terbentuk bisa tedadi pada keluarga sah secara hukum maupun keluarga yang belum sah secara hukum, baik hukum agama maupun hukum pemerintah.
Sebab-sebab terjadinya single parent
a.    Pada keluarga sah.
1)     Perceraian. Adanya, ketidakharmonisan dalam keluarga yang disebabkan adanya perbedaan persepsi atau perselisihan yang tidak mungkin ada jalan keluar, masalah ekonomi/pekerjaan, salah satu pasangan selingkuh, kematangan emosional yang kurang, perbedaan agama,aktifita.ssuan-iiistri yang tinggi di luar rumah sehigga kurang komunikasi, problem seksual dapat merupakan faktor timbulnya perceraian.
2)    Orang tua meninggal. Takdir hidup clan coati manusia di tangan Tuhan. Manusia hanya bisa berdoa dan berupaya. Adapun sebab kematian ada berbagai macam. Antara lain karma kecelakaan, bunuh diri, pembunuhan, musibah bencana alam, kecelakaan kerja, keracunan, penyakit dan lain-lain.
3)    Orang tua masuk penjara. Sebab masuk penjara antara lain karena melakukan tindak kriminal seperti perampokan, pembunuhan, penciarian, pengedar narkoba atau thicial, perdata seperti hutang, jual beli, atau karma tidak pidana korupsi sehingga sekian lama tidak berkumpul dengan keluarga.
4)    Study ke pulau lain atau ke negara lain. Tuntutan profesi orang tua untuk melanjutkan study sebagai peserta tugas belajar mengakibatkan harus, berpisah dengan keluarga untuk sementara waktu, atau bisa terjadi seorang anak yang meneruskan pendidikan di pulau lain atau luar negeri dan hanya bersama ibu saja sehingga menyebabkan anak untuk sekian lama tidak didampingi otch ayahnya yang hams tetap kerja di negara atau pulau atau kota. kelahiran.
5)    Kerja di luar daerah atau luar negeri. Cita-cita untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik lagi menyebabkan salah satu orang tua meninggalkan daerah, terkadang ke luar negeri.
Dampak single parent
a.    Dampak negative
1)    Perubahan perilaku anak. Bagi seorang anak yang tidak siap, ditinggalkan orang tuanya bisa menjadi mengakibatkan perubahan tingkah laku. Menjadi pemarah, berkata kasar, suka melamun, agresif, suka memukul, menendang, menyakiti temannya. Anak juga tidak berkesempatan untuk belaiar perilaku yang baik sebagaimana, perilaku keluarga yang harmonis. Dampak yang paling berbahaya biia anak mencari pelarian di luar rumah, seperti menjadi anak jalanan, terpengaruh penggunaaa narkoba untuk melenyapkan segala kegelisahan dalam hatinya, terutama anak yang kurang kasih sayang, kurang perhatian orang tuanya.
2)    Perempuan merasa terkucil. Terlebih lagi pada perempuan yang sebagai janda atau yang tidak dinikahi, di masyarakat terkadang mendapatkan cemooh dan ejekan.
3)    Psikologi anak terganggu. Anak Bering mendapat ejekan diri Leman sepermainan sehingga anak menjadi murung, sedih. Hai ini dapat mengakibatkan anak menj adi kurang percaya diri dan kurang kreatif.
b.    Dampak positif
1)    Anak terhindar dari komunikasi yang kontradiktif dari orang tua, tidak akan terjadi komunikasi yang berlawanan dari orang tua, i-nisaInya ibunya mengijinkan teLapi ayahnya melarangnya. Nilai yang diajarkan oleh ibu atau ayah d iterima penuh karena tidak terjadi pertentangan.
2)    Ibu berperan penuh dalam pengambilan keputusan clan tegar.
3)    Anak lebih mandiri dan berkepribadian kuat, karena terbiasa tidak selalu hal didampingi, terbiasa menyelesaikan berbagai masalah kehidupan.
Penanganan single parent
a.    Memberikan kegiatan yang positif. Berbagai macam kegiatan yang dapat mendukung anak untuk lebih bisa mengah, ualisasikan diri secara positif antara lain dengan penyaluran. hobi, kursus sehingga menghindarkan anak melakukan hal-hal yang negatif.
b.    Memberi peluang anak belajar berperilaku baik. Bertandang pada keluarga, lain yang harmonis memberikan kesempatan bagi anak untuk meneladani figur orang tua yang tidak diperoleh dalam lingkungan keluarga sendiri.
c.    Dukungan komunitas. Bergabung dalam club sesama keluarga dengan orang tua tunggal dapat memberikan dukungan karena anak mempunyai banyak teman yang bemasib sama sehingga tidak merasa sendirian.
Upaya pencegahan single parent dan pencegahan dampak negatif single parent
a.    Pencegahan terjadinya kehamilan di luar nikah.
b.    Pencegahan perceraian dengan mempersiapkan perkawinan dengan baik dalam segi psikologis, ke-aangan, spiritual.
c.    Menjaga kommikasi dengan berbagai sarana teknologi informasi.
d.    Menciptakan kebersamaan antar anggota keluarga.
e.    Peningkatan spiritual dalam keluarga.

5. Perkawinan usia muda dan tua
Perkawinan adalah ikatan batin antara pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk  keluarga/ rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa (UU Perkawinan No 1 Thahun 1974)

Perawinan usia muda
Menurut UU Perkawinan No 1 Tahun 1974 pasal 7 bahwa perkawinan diij inkan bila laki-laki berumur 19 tahun dan wanita berumur 16 tahun. Namun pemerintah mempunyai kebijakan tentang perilaku reproduksi manusia yang ditegaskan dalam UU No 10 Tahun 1992 yang menyebutkan bahwa pemerintah menetapkan kebijakan upaya penyelenggaraan Keluarga Berencana. Banyaknya resiko kehamilan kurang dari perkawinan diij inkan bila laki-laki berumur 21 tahun dan perempi mn berumur 19 tahun. Sehingga perkawinan usia muda adalah perkawinan yang dilakukan bila pria kurang dari 21 tahun dan perempuan kurang dari 19 tahun.

Perkawinan usia tua
Adalah perkawinan yang dilakukan bila perempuan berumur lebih dari 35 tahun.

Kelebihan perkawinan usia muda
a.    Terhidar dari perilaku seks bebas, karena kebutuhan seksual terpenuhi.
b.    Menginjak usia tua tidak lagi mempunyai anak yang masih kecil.
Kelebihan perkawinan usia tua
Kematangan fisik, psikologis, sosial, financial sehingga harapan membentuk keluarga sejahtera berkualitas terbentang.
Kekurangan pernikahan usia muda
a.    Meningkatkan angka kelahiran sehingga pertumbuhan penduduk semakin meningkat.
b.    Ditinjau dari segi kesehatan, perkawinan usia muda meningkatkan angka kematian bayi dan ibu, risiko komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas. Selain itu bagi perempuan meningkatkan risiko cacerviks karena hubungan seksual dilakukan pada saat secara anatorni sel-sel cerviks belum matur. Bagi bayi risiko terjadinya kesakitan dan kematian meningkat.
c.    Kematangan psikologis belum tercapai sehingga keluarga mengalami kesakitan mewujudkan keluarga yang berkualitas tinggi.
d.    Ditinjau dari segi sosial, dengan perkawinan mengurangi kebebasan pengembangan diri, mengurangi kesempatan melanjutka pendidikan jenjang tinggi.
e.    Adanya konflik dalam keluarga membuka peluang untuk mencari pelarian pergaulan di luar rumah sehingga meningkatkan risiko penggunaan minum alkohol, narkoba dan seks bebas.
f.     Tingkat peceraian tinggi. Kegagalan kehiarga dalam melewati berbagai macam permasalahan meningkatkan risiko perceraian.

Kekurangan pernikahan usia tua
a.    Meningkatkan angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi. Kemu-igkinan/risiko tejadi ca mammae meningkat.
b.    Meningkatnya risiko kehamilan dengan anak kelainan bawaan, misalnya terjadi kromosom non disjunction yaitu kelainan proses meiosis basil konsepsi (fetus) sehingga menghasilkan kromosom sejumlah 47. Aneuploidy, yaitu ketika kromosom basil konsepsi tidak tepat 23 pasang. Contohnya: trisomi 21 (down syndrome), trisomi 13 (patau syndrome) dan trisomi 18 (edwards syndrome).

Penanganan Perkawinan Usia Muda
a.    Pendewasaan usia kehamilan dengan penggunaan kontrasepsi sehingga kehamilan pada waktu usia reproduksi sehat.
b.    Bimbingan psikologis. Hal ini dimaksudkan untuk membantu pasangan dalam menghadapi persoalan-persoalan agar mempunyai cara pandang dengan pertimbangan kedewasaan, tidak mengedepankan emosi.
c.    Dukungan keluarga. Peran keluarga sangat banyak mernbantu kell 1,grga muda baik clukungan berupa material maupun non material untuk kelanggengan keluarga, sehingga lebih tahan terhadap hambatan­hambatan yang ada.
d.    Peningkatan kesehatan dengan peningkatan pengetahuan kesehatan, perbaikan gizi bagi istri yang mengalami kurang gizi.
Penanganan Perkawinan Usia Tua
a.    Pengawasan kesehatan: ANC secara rutin pada tenaga kesehatan.
b.    Peningkatan kesehatan dengan peningkatan pengetahuan kesehatan, perbaikan gizi bagi istri yang mengalami kurang gizi.
Pencegahan:
a.    Penyuluhan kesehatan untuk menikah pada usia reprodulcsi se-hat.
b.    Merubah cara pandang budaya atau cara pandang diri yang tidak mendukung.
c.    Meningkatkan kegiatan sosialisasi.


6. Wanita Di Tempat Kerja
Alasan wanita bekerja
a.    Aktualisasi diri.
Wanita yang bekerja akan memperoleh pengakuan dari lingkungan  karena produktifitas dan kreatifitas yang telah dihasilkan.
b.    Mata pencaharian. Penghasilan yang diperoleh dalam rangka mencukupi kebutuhan sehari-hari agar meningkat kualitas hidup keluarga, baik untuk memenuhi kebutuhan primer seperti pangan, sandang, papan, atau kebutuhan sekunder seperti perabot rumah tangga, mobil, jaminan kesehatan, dll.
c.    Relasi positif dalam keluarga. Pengetahuan yang luas dan pengalaman rnengambil keputusan saat bekerja dalam memecahkan suatu masalah ditempat kerja, pola pikir terbuka memungkinkan jalinan saling mendukung dalam keluarga.
d.    Pemenuhan kebutuhan sosial. Wanita bekerja akan menjumpai banyak relasi, Leman sehingga dapat memperkaya wawasan bagi wanita.
e.    Peningkaan keterampilan/kompetensi. Dengan bekerja wanita terns terpacu untuk selalu meningkatkan keterampilan atau kompetensi sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan prestasi yang lebih sebagai karyawan.
f.     Pengaruh lingkungan. Lingkungan mayoritas wanita banyak yang bekerja akan memberikan motivasi bagi wanita lain untuk bekerja.
Dampak wanita bekerja
a.    Terpapar zat-zat kimia yang mempengaruhi kesehatan dan infertilitas. Asap rokok, bahan radiologi, bahan organik, bahan organo fosfat dan organo Morin untuk racun hewan perusak.
b.    Resiko pelecehan seksual. Pelaku pelecehan seksual bisa Leman sejawat, supervisor, manager atau atasan. Adaptor wanita terkadang tidak kuasa menolak karena ketakutan atau ancaman di PHK.
c.    Penundaan usia nikah. Wanita yang sibuk mengejar prestasi kariemya menyebabkan tidak mempunyai banyak waktu Luang untuk memperhatikan pernikahannya.
d.    Keharnionisan rumah tangga terpengaruh. Kesibukan aktifitas yang berlebilian memungkinkan wanita tidak mempunyai banyak waktu untuk keluarga karena pusat perhatiannya pada kesuksesan kanernya, sehingga bisa menelantarkan peran sebagai istri dan sebagai ibu.
Upaya pemecahan
a.    Bekerja menggunakan proteksi, seperti masker, sarung Langan, baju khusus untuk proteksi radiasi.
b.    Cek kesehatan secara berkala.
c.    Melakukan aktifitas bekerja tidak hanya dengan satu pria misalnya bila lembur, divas luar.
d.    Tidak nebeng kendaraan tanpa ditemani orang lain, sekalipun ditawari oleh atasan.
e.    Jangan ragu mengatakan 'tidak' walaupun pada atasan. Tidak perlu takut pada ancaman di pecat.
f.     Menetapkan target menikah.
g.    Menjaga komunikasi dengan keluarga. Mencurahkan perhatian khusus pada keluarga pada hari libur dengan kualitas yang maksimal, mengagendakan kegiatan bersarna keluarga, memenuhi hak-hak suami dan anak, berbagi peran dengan suami dan selalu menghargai suami.


1.    Incest

Incest adalah hubungan seksual yang terjadi antar anggota keluarga. Anggota keluarga yang dimaksud adalah anggota keluarga yang mempunyai hubungan pertalian darah. Batas pertalian darah paling atas adalah kakek, paling bawah adalah cucu, batas kesamping adalah keponakan. Keluarga diluar itu bukan termasuk incest. Pelaku biasanya adalah orang yang lebih dewasa (lebih kuasa) dan korban lebih banyak adalah anak-anak. Sering terjadi pada anak tiri oleh bapak tiri, menantu oleh mertua, cucu oleh kakeknya.
Incest dapat terjadi karena saling suka atau saling cinta dan dapat juga terjadi akibat paksaan tanpa rasa cinta. Incest ada yang diluar perkawinan, namun ada juga yang sengaja dilakukan dalam ikatan perkawinan. Diluar negri, perkawinan incest diperbolehkan, sedangkan di Indonesia perkawinan incest tidak dibenarkan menurut hukum. Perkawinan di Indonesia dinyatakan sah dilakukan menurut agama. Sedangkan pencatatannya, bila agama Islam di Kantor Urusan Agama (KUA) dan selain agama Islam di Kantor Pencatatan Sipil. Sah tidaknya perkawinan di Indonesia berdasarkan ajaran agama masing-masing. Semua agama di Indonesia melarang perkawinan incest. Bila diketahui ada pertalian darah (muhrim dalam agama islam) sedangkan perkawinan telah dilakukan dan walaupun sudah mempunyai anak, maka perkawinan harus dibatalkan.

Gambaran incest di luar ikatan perkawinan
a.    Pelaku kebanyakan orang yang kerap berinteraksi dengan korban, tinggal dalam satu rumah.
b.    Korban mayoritas anak-anak sehingga tidak kuasa melakukan perlawanan diri. Biasanya dibawah tekanan karena ancaman pelakusehingga ketakutan atau diberi imbalan atau dengan bujuk rayu misalnya diberi uang atau makanan.
c.    Sering berakibat trauma fisik dan psikis.

Perlindungan Hukum
                        Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA) pasal 81-82 UUPKDRT, KUHP pasal 285, KUHP pasal 98, KUH Perdata pasal 1365.

Upaya Mengatasi
a.    Waspada dalam mengasuh anak. Tidak membiasakan anak dirumah sendirian dengan anggota keluarga yang berlainan jenis.
b.    Tidak mengabaikan kata hati tiap ada gelagat yang menjurus pada tindakan pelecehan dalam keluarga.
c.    Memisahkan tempat tidur anak mulai umur 3 tahun dari ayah atau saudara baik sesama jenis kelamin maupun berlainan jenis kelamin.
d.    Perlu juga melibatkan orang lain diluar lingkungan keluarga.
e.    Lapor pada petugas penegak hukum walaupun dibawah ancaman pelaku.

2.    Home Less
Home less atau tuna wisma atau gelandangan adalah orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma di masyarakat setempat, serta tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap diwilayah tertentu dan hidup ditempat umum. Home less banyak terdapat di kota- kota besar. Kedatangan mereka ke kota besar tanpa didukung oleh pendidikan dan ketrampilan yang memadai. Biasanya mereka tinggal di empeeran toko, kolong jembatan, kolong jalan layang, gerobak tempat barang bekas, sekitar rel kereta api, di taman, di tempat umum lainnya. Pekerjaan mereka sebagai pengamen, pengemis, pemulung sampah.

Penyebab Home Less
a.    Kemiskinan
Hal ini merupakan faktor utama. Kemiskinan menyebabkan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan papan, sehingga mereka bertempat tinggal di tempat umum. Kemiskinan juga menyebabkan rendahnya pendidikan sehingga tidak mempunyai ketrampilan dan keahlian untuk bekerja. Hal ini berefek pada anak-anak mereka. Mereka tidak mampu membiayai anak-anaknya sekolah sehingga anak-anak mereka juga ikut jadi gelandangan.
b.    Bencana Alam
Bencana alam akhir-akhir ini banyak menimpa negara kita. Mereka tinggal di pengungsian, kehilangan pekerjaan mereka.
c.    Yatim Piatu
Anak yang tidak mempunyai orangtua, saudara tidak mempunyai tempat tinggal sehingga mereka mencari tempat berteduh di tempat-tempat umum.
d.    Kurang Kasih Sayang
Berbagai penyebab sehingga anak merasa kurang diperhatikan, kurang kasih sayang orang tuanya, maka ia turun ke jalan untuk mencari komunitas yang mau menerima dia apa adanya.
e.    Tinggal di Daerah Konflik
Penduduk yang tinggal di daerah konflik, dimana mereka merasa keamanannya kurang terjaga mengakibatkan mereka pindah ke daerah lain yang mereka anggap lebih aman, apalagi kalau rumah mereka hancur karena perang. Banyak tindak kekerasan di wilayah konflik, termasuk pelecehan seksual, perkosaan, pembunuhan sehingga mereka memaksa meninggalkan daerahnya.



Dampak Home Less
a.    Kebersihan dan Kesehatan
Rumah mereka seadanya, sangat jauh dari kriteria rumah sehat. Perilaku hidup bersih sehat sangat kurang. Tempat tinggal mereka kotor, ventilasi, pernerangan kurang, keperluan untuk mandi, cuci dan masak tidak memenuhi kesehatan, dll sehingga muncul masalah kesehatan. Mereka tidak memperhatikan hal ini karena untuk makan saja mereka hampir tidak bisa terpenuhi. Mereka tidak mempunyai cukup dana untuk pemeliharaan kesehatan dan pengobatan.
b.    Pengguna Narkoba
Banyak diantara mereka menggunakan narkoba. Pengaruh lingkungan mereka sangat berpengaruh. Mereka rawan terkena HIV AIDS dengan penggunaan jarum suntik secara bergantian.
c.    Gizi Kurang
Ketidakmampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan pangan, akibat rendahnya daya beli makanan, apalagi membeli makanan bergizi mengakibatkan mereka mengalami gizi buruk, termasuk ibu hamil dan anak balita. Mereka makan sekedar kenyang.
d.    Tindak Kekerasan Sesama Home Less
Perebutan atau persaingan lahan pencari makan menyebabkan mereka saling terjadi konflik.
e.    Dimanfaatkan
Anak-anak kecil banyak dimanfaatkan untuk mengemis dan menyetorkan sejumlah uang setiap harinya agar terhindar dari tindak kekerasan oleh pihak lain yang lebih kuat atau oleh orang dewasa yang tidak bertanggungjawab.
f.     Pelecehan Seksual
Orang dewasa yang tidak bertanggungjawab melakukan sodomi, pelecehan seksual dengan imbalan uang, atau dibawah ancaman mereka untuk melampiaskan nafsu mereka.

Penanggulangan
Pencegahan dilakukan dengan :
a.    Penyuluhan dan konseling.
b.    Pendidikan pelatihan keterampilan.
c.    Pengawasan serta pembinaan lanjut.

Penghentian / Peniadaan
a.    Penertiban oleh aparat pemerintah.
b.    Penampungan.
c.    Pelimpahan.
Rehabilitasi
a.    Pembangunan perumahan sangat sederhana.
b.    Pengadaan rumah singgah dan diberikan berbagai pelatihan dan pendidikan.
c.    Transmigrasi.

3.    Wanita di Pusat Rehabilitasi
Pusat rehabilitasi wanita meliputi :
a.    Maslah sosial, contohnya PSK.
b.    Masalah psikologis, misalnya trauma pada korban kekerasan.
c.    Masalah drug abuse.

Rehabilitasi bagi para PSK dilakukan :
a.    Di luar panti ditempat lokalisasi.
b.    Di dalam panti.
Upaya rehabilitasi yang dilakukan meliputi :
a.    Bimbingan agama.
b.    Bimbingan sosial.
c.    Latihan keterampilan.
d.    Pendidikan kesehatan.
e.    Pendidikan dan kesejahteraan pribadi.

Rehabilitasi wanita korban kekerasan, trauma psikologis
            Upaya yang dilakukan dengan membangkan dan membangkitkan rasa percaya diri. Salah satu cara dengan therapy psikologis. Mereka membutuhkan pendampingan agar bisa kembali pada keadaan semula. Upaya rehabilitasi korban kekerasan tercantum dalam UUPKDRT.

4.    Pekerja Seks Komersial
Pekerja seks komersial adalah suatu pekerjaan dimana seorang perempuan menggunakan atau mengeksploitasi tubuhnya untuk mendapatkan uang. Akibatnya semakin banyak ditemukan penyakit menular seksual. Profesi sebagai pekerja seks komersial dengan penyakit menular seksual merupakan satu lingkaran setan. Biasanya penyakit menular seksual ini diidap oleh PSK, dimana dalam menjajakan dirinya terhadap pasangan kencan yang berganti-ganti tanpa menggunakan pengaman sseperti kondom.
Faktor-faktor penyebab adanya PSK
a.    Kemiskinan
Kebutuhan yang semakin banyak pada seorang perempuan memaksa dia untuk mencari sebuah pekerjaan dengan penghasilan yang memuaskan namun kadang dari beberapa mereka harus bekerja sebagai PSK untuk pemenuhan kebutuhan tersebut.

b.    Kekerasan Seksual
Penelitian menunjukkan banyak faktor penyebab perempuan menjadi PSK diantaranya kekerasan seksual seperti perkosaan oleh bapak kandung, paman, guru, dan sebagainya.
c.    Penipuan
Faktor lain yaitu penipuan dan pemaksaan dengan berkedok agen penyalur kerja. Kasus penjualan anak perempuan oleh orangtua sendiripun kerap ditemui.
d.    Pornografi
Menurut definisi Undang-Undang Anti Pornografi, pornografi adalah bentuk ekspresi visual berupa gambar, lukisan, tulisan, foto, film atau yang dipersamakan dengan film, video, tayangan atau media komunikasi lainnya yang sengaja dibuat untuk memperlihatkan secara terang-terangan atau tersamar kepada publik alat vital dan bagian-bagian tubuh serta gerakan-gerakan erotis yang menonjolkan sensualitas dan/atau seksualitas, serta segala bentuk perilaku seksual dan hubungan seks manusia yang patut diduga menimbulkan rangsangan nafsu birahi pada orang lain.
Persoalan-persoalan psikologis
a.    Akibat gaya hidup modern
Seorang perempuan pastinya ingin tampil dengan keindahan tubuh dan barang-barang yang dikenakannya. Namun ada dari beberapa mereka yang terpojok karena masalah keuangan untuk pemenuhan keinginan tersebut maka mereka mengambil jalan akhir dengan menjadi PSK untuk pemuasan dirinya.
b.    Broken Home
Kehidupan keluarga yang kurang baik dapat memaksa seorang remaja untuk melakukan hal-hal yang kurang baik diluar rumah dan itu dimanfaatkan oleh seseorang yang tidak bertanggungjawab dengan mengajaknya bekerja sebagai PSK.
c.    Kenangan masa kecil yang buruk
Tindak pelecehan yang semakin meningkat pada seorang perempuan bahkan adanya perkosaan pada anak kecil bisa menjadi faktor dia menjadi seorang PSK.

Dampak yang ditimbulkan bila seseorang bekerja sebagai PSK
a.   Keluarga dan masyarakat tidak dapat lagi memandang nilainya sebagai seorang perempuan.
b.   Stabilitas sosial pada dirinya akan terhambat, karena masyarakat hanya akan selalu mencemooh dirinya.
c.   Memberikan citra buruk bagi keluarga.
d.   Mempermudah penyebaran penyakit menular seksual, seperti gonore, klamidia, herpes kelamin, sifilis, hepatitis B, HIV/AIDS.
Penanganan masalah PSK
a.    Keluarga
1)    Meningkatkan pendidikan anak-anak terutama mengenalkan pendidikan seks secara dini agar terhindar dari perilaku seks bebas.
2)    Meningkatkan bimbingan agama sesuai tameng agar terhindar dari perbuatan dosa.
b.    Masyarakat
Meningkatkan kepedulian dan melakukan pendekatan terhadap kehidupan PSK.
c.    Pemerintah
1)    Memperbanyak tempat atau panti rehabilitasi.
2)    Meregulasi undang-undang khusus tentang PSK.
3)    Meningkatkan keamanan dengan lebih menggiatkan razia lokalisasi PSK untuk dijaring dan mendapatkan rehabilitasi.
Aspek kesehaan reproduksi
                        Diantara remaja putri berusia 11-15 tahun,  yang diteliti, ada yang mengidap penyakit menular seksual Trikhomonas dan Human Papilloma Virus. Ini mengisyaratkan bahwa remaja putri dalam usia yang sangat masih muda sudah melakukan huungan seks dengan laki-laki, bahkan tertular penyakit. Yang lebih menarik lagi adalah penelitian ini dilakukan diklinik spesialis swasta. Ini menunjukkan bahwa mereka yang datang kesana adalah kalangan menengah keatas. Kembali hendak dikemukakan disini bahwa, bukan masalah ekonomi yang mendorong remaja putri menjadi PSK, tetapi lebih pengaruh selera hedonistik. Dampak perilaku seksual yang sudah merambah dalam usia yang masih sangat muda ini akan mempengaruhi kesehatan reproduksi mereka dikemudian. Akibatnya bisa terjadi kemandulan atau beberapa penyakit saluran reproduksi lainnya, terutama mereka yang sudah pernah terinfeksi oleh HPV (Human Papilloma Virus).


5.    Drug Abuse
Penyalahgunaan obat dimaksud bila suatu obat digunakan tidak untuk tujuan  mengobati penyakit, akan tetapi digunakan dengan sengaja untuk mencari atau mencapai kesadaran tertentu karena pengaruh obat pada jiwa.
Dari segi hukum obat-obat yangs ering disalah gunakan dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu: narkotika atau obat bius dan bahan psikotropika. Untuk mencegah penyalahgunaan obat, pemerintah baru-baru ini telah mengesahkan dua Undang-Undang penting yaitu:
a.    Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 tahun 1997 tanggal 11 Maret 1997 tentang Psikotropika.
b.    Undang-Undang Republik Indonesia No. 22 tahun 1997 tanggal 1 September 1997 tentang Narkotika.
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Contohnya adalah opium, morphine, cocaine, ganja/marihuana, dan sebagainya.
Narkotika dibedakan menjadi :
a.    Narkotika golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.
b.    Narkotika golongan II adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan.
c.    Narkotika golongan III adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.
Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Bahan psikotropika adalah bahan/obat yang mempengaruhi jiwa atau keadaan jiwa, yaitu :
a.      Keadaan kejiwaan diubah menjadi lebih tenang, ada perasaan nyaman sampai tidur.
b.      Dalam hal inni pemakai menjadi gembira, hilang rasa susah/sedih, capek/depresi.
c.      Bahan memberi halusinasi, yaitu si pemakai melihat/merasakan segala sesuatu lebih indah dari yang sebenarnya dihadapi.
Psikotropika yang mempunyai potensi mengakibatkan sindroma ketergantungan digolongkan menjadi :
a.           psikotropika golongan I adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
b.           Psikotropika golongan II adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan an dapat digunakan dalam terapi, dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai poensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
c.           Psikotropika golongan III adalah psikotropika yang berkhasiatpengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan.
d.           Psikotropika golongan IV psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau  untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan.

Cara Pencegahan Tindak Penyalahgunaan Obat Terlarang
                        Penggunaan obat terlarang tersebut sudah melanggar hukum, agar generasi  muda tidak semakin terjerumus maka perlu adanya pencegahan. Upaya-upaya yang dapat ditempuh antar lain:
a.    Melakukan kerjasama dengan pihak yang berwenang untuk melakukan penyuluhan tentang bahaya narkoba. Misalnya dengan mengadakan seminar, maupun temu wicara antara gerakan anti narkobadengan para pelajar, penyuluhan kepada masyarakat umum maupun sekolah-sekolah mengnai bahaya narkoba.
b.    Mengadakan razia mendadak secara rutin. Razia ini perlu dilakukan agar para pengedar, pengguna dapat terjaring disaat tanpa mereka ketahui (saat transaksi jual beli  obat terlarang). Razia dapat dilakukan di sekolah, diskotik, club malam, cafe, maupun tempat-tempat sunyi yang diduga sebagai tempat transaksi.
c.    Pendampingan dari orangtua siswa itu senadiridengan memberikan perhatian dan kasih sayang. Salah satu penyebab banyaknya remaja terjerumus dalam pemakaian obat terlarang adalah kurang kasih sayang dari keluarga, sebab mereka berpikir tidak perlu lagi ada beban pikiran keluarga ketika mereka memakai obat tersebut.
d.    Pihak sekolah harus melakukan pengawasan yang ketat terhadap gerak-gerik anak didiknya, karena biasanya penyebaran (transaksi)  narkoba sering terjadi disekitar lingkingan sekolah.
e.    Pendidikan moral keagamaan harus lebih ditekankan kepada siswa, karena salah satu penyebab terjerumusnya anak-anak kedalam lingkaran setan ini adalah kurangnya pendidikan moral dan keagamaan yang mereka serap, sehingga perbuatan tercela seperti inipun akhirnya mereka jalani.

Solusi atau cara mengatasi tindak penyalahgunaan obat terlarang
a.    Membawa anggota keluarga (pemakai) ke panti rehabilitasi untuk mendapatkan penanganan yang memadai.
b.    Pembinaan kehidupan beragama, baik disekolah, keluarga dan lingkungan.
c.    Adanya komunikasi yang harmonis antara remaja dan orang tua, guru serta lingkungannya.
d.    Selalu berperilaku positif dengan melakukan aktivitas fisik dalam penyaluran energi remaja yang tinggi seperti berolahraga.
e.    Perlunya pengembangan diri dengan berbagai program/hobi baik di sekolah maupun dirumah dan lingkungan sekitar.
f.     Mengetahui secraa pasti gaya hidup sehat sehingga mampu menangkal pengaruh atau bujukan memakai obat terlarang.
g.    Saling menghargain sesama remaja (peer group) dan anggota keluarga.
h.    Penyelaesaian berbagai masalah dikalangan remaja/pelajar serta positif dan konstruktif.

6.    Pendidikan
Pendidikan merupakan proses pemberdayaan peserta didik sebagai subjek dan objek dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Pendidikan juga merupakan proses sadar dan sistematis disekolah, keluarga, dan masyarakat untuk menyaqmpaikan suatu maksud dari suatu konsep yang sudah diterapkan. Tujuan pendidikan yaitu diharapkan individu mempunyai kemampuan dan ketrampilan secara mandiri untuk meningkatkan taraf hidup lahir batin dan meningkatkan perannyasebagai pribadi, pegawai/karyawan, warga masyarakat, warga negara, dan makhlik Tuhan dalam mengisi pembangunan.
Tingkat kualitas sumber daya manusia (SDM) suatu bangsa pada hakekatnya ditentukan oleh kualitas pendidikan yang diperoleh. Pendidikan yang baik dan berkualitas saat melhirkan individu yang baik dan berkualitas pula. Sebaliknya apabila pendidikan yang diperoleh tidak baik dan tidak berkualitas, maka hal ini akan berdampak terhadap kualitas SDM yang dibangun. Peningkatan pendidikan bagi kaum perempuan merupakan keharusan yang tidak dapat dielakkan demi mencapai kesetaraan dan keadilan gender. Analisis  gender dalam pembangunan pendidikan ditingkat nasional menemukan adanya kesenjangan gender dalam pelaksanaan pendidikan terutama di tingkat SMK dan perguruan tinggi, namun lebih seimbang peda tingkat SD, SMP, dan SMU. Kecenderungan adalah semakin tinggi jenjang pendidikan, maka makin meningkat kesenjangan gendernya.
Pendidikan yang tinggi dipandang perlu bagi kaum wanita, karena pendidikan yang tinggi maka mereka dapat meningkatkan taraf hidup, membuat keputusan yang menyangkut masalah kesehatan mereka sendiri. Seorang wanita yang lulus dari perguruan tinggi akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dan mampu berperilaku hidupn sehat bila dibandingkan dengan seorang wanita yang memiliki pendidikan rendah. Semakin tinggi pendidikan seorang wanita maka ia semakin mampu mandiri dengan sesuatu yang menyangkut diri mereka sendiri.

7.    Upah
Fenomena perempuan bekerja bukanlah barang baru ditengah masyarakat kita. Sebenarnya tidak ada perempuan yang benar-benar menganggur, biasanya para perempuan juga memiliki pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya entah itu dengan mengelola sawah, membuka warung dirumah, mengkreditkan pakaian dan lain sebagainya. Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa perempuan dengan pekerjaaan diatas bukan termasuk kategori perempuan bekerja. Hal ini karena perempuan bekerja identik dengan wanita karir atau wanita kantoran, padahal dimanapun dan kapanpun perempuan itu bekerja seharusnya tetap dihargai pekerjaannya.